Di kota Yogyakarta khususnya desa-desa wisata biasanya memiliki sebuah keunikan masing-masing yang bisa ditonjolkan sebagai daya tarik bagi wisatawan yang datang untuk melihat baik pemandangan alam, kerajinan bahkan tidak ketinggalan seni tari yang ditampilkan.
Seni tari yang ditampilkan pun beragam, mulai dari tarian yang dilakukan wanita-wanita dnegan balutan pakaian tradisional maupun seni tari tradisional lainnya yang tak kalah seru seperti Jathilan.
Kerap disebut juga dengan jaran kepang, atau kuda lumping mungkin bagi anda tidak terlalu banyak mengetahui mengenai jenis tarian ini dimana bagi orang-orang pria yang memainkannya diliputi oleh nuansa magis yang menambah semarak pertunjukkan.
Seringkali kalau ada kabar mengenai pertunjukan Jathilan yang akan digelar, berita tersebut akan cepat menyebar dari mulut ke mulut (gethok tular) antar warga desa atau bahkan wisatawan yang datang. Baik tua, muda, wanita maupun pria akan berbondong-bondong mendatangi tempat dimana pertunjukkan ini akan digelar.
Seperti telah disebutkan, kesenian tari Jathilan ini cukup unik sebab memadukan antara gerakan tari yang memukau penonton dengan kekuatan magis yang mana memang demikian adanya. Seni tari satu ini sampai sekarang masih sangat sering dijumpai di desa-desa Pulau Jawa, termasuk jogja.

Yang perlu anda ketahui juga bahwa mereka yang memainkan tarian Kuda lumping ini berjenis kelamin pria dan biasanya tergabung dalam sebuah sanggar seni yang memang sudah kerap berlatih dalam pengawasan orang-orang yang sudah paham seluk beluk dunia magis nya.
Selain itu setiap sanggar juga bakal memiliki kostum tarian sendiri-sendiri sehingga cukup unik memang, setiap kali melihat pertunjukkan ini melihat kostum akan berbeda satu sama lainnya.
Nah, selain balutan pakaian tradisional yang khas lainnya dari Jathilan adalah penggunaan kuda lumping atau jaran kepangnya yang mana terbuat dari anyaman bambu dan didesain sangat mirip dengan kuda (jaran), itulah mengapa disebut jaran kepang.
Ketika tarian tradisional ini digelar akan dimulai dengan para pemain yang menari-nari dulu dengan memakai kuda lumping yang dibawanya diiringi tabuhan musik tradisional semisal saron, gendang, slompret, bonang, gong serta ketipung.
Adegan selanjutnya bisa anda lihat para pria penari jaran kepang tersebut terlihat mulai kerasukan oleh roh halus yang bisa ditandai dengan gerakan-gerakan diluar kesadaran. Ketika melihat ini sebaiknya anda waspada tapi tidak perlu takut karena memang sudah ada tim sendiri yang mengawasi jalannya pertunjukkan termasuk mengendalikan pemain jaran kepang yang sudah kerasukan.
Salah satu hal yang ditunggu oleh penonton dari perhelatan tarian Jathilan ini adalah atraksi berbahaya yang dilakukan para pemainnya dimana seringkali terlihat diluar akal sehat manusia. Bayangkan bagaimana bisa mereka memakan langsung deretan benda tajam seperti beling atau pecahan kaca dengan mimik muka seperti kita ketika sedang makan enak. Wow!

Selain itu semua penonton pun akan disuguhi bagaimana mereka semua dilecuti menggunakan cambuk hingga berulang kali, namun tidak meninggakalkan bekas luka memar sedikitpun. Pun juga ketika dilukai dengan barang tajam lainnya tidak ada luka sedikitpun diantara pemain Jathilan yang sedang kesurupan tersebut. Hmm, ngeri-ngeri sedap ya?
Begitu pertunjukkan usai, para pemain Jaran Kepang tersebut akan dibawa untuk mengikuti sebuah ritual guna membuat mereka sadar dan pulih tubuhnya seperti sedia kala. Wah, ternyata hebat juga ya ragam kebudayaan bangsa kita ini.
Di kota Jogja sendiri sering mengadakan event atau acara pagelaran seni budaya yang juga bertujuan untuk melesatarikan budaya leluhur sekaligus menambah daya tarik para wisatawan untuk menggerakkan roda perekonomian tiap-tiap daerah berbasis budaya. Bagaimana menarik untuk anda?