Jikalau mendatangi Kraton Yogyakarta atau bahkan dalam perhelatan setiap hari besar Islam atau Jawa, maka kita akan disuguhkan barisan prajurit-prajurit dari Kraton Yogyakarta yang beragam seragam dan peralatan yang dibawanya.
Seringkali kita sebagai pengunjung tidak tahu menahu sejarah mengenai masing-masing kesatuan prajurit Kraton tersebut, padahal jika anda belum tahu setiap kesatuan prajurit tangguh tersebut memiliki fungsi dan tugas yang berbeda.
Parjurit khusus keraton Jogja tersebut adalah “jelmaan” para prajurit yang sakti di era kerajaan Mataram ketika menyerang Batavia yang dipimpin Sultan Agung Hanyokrokusumo. Seperti kita ketahui bersama Kasunanan Surakarta dan Kraton Yogyakarta adalah sempalan dari Kerajaan Mataram yang kesohor dengan para kstaria yang tangguh dan berani mati.
Tidak heran jikalau para prajurit tersebut dahulu kerap terlibat langsung dalam perlawanan dengan penjajah Belanda, dan seiring waktu setelah Kesultanan Jogha bergabung dengan NKRI para prajutit tersebut dialihfungsikan menjadi “prajurit budaya”.
Walaupun mereka bukan sebagai prajurit tempur lagi namun hingga kini kita bisa melihatnya dalam setiap acara kebesaran khusus yang dipertontonkan secara umum, supaya menambah daya tarik wisata ke kota gudeg ini.
Nah, jika anda penasaran dengan masing-masing nama prajurit ksatria dalam bahasa Kraton disebut bregodo, berikut ini beberapa info tentang mereka yang bisa dibaca:
- Prajurit Wirobrojo
Penamaan Wirabraja diambil dari bahasa Sanskerta dengan makna kata wira (berani) dan braja (tajam) yang filosofisnya berarto prajurit gagah berani sekaligus memiliki kepekaan yang tajam dengan panca indranya. Sehingga dalam setiap kondisi pasukan ini selalu peka terhadap keadaan sekitarya.
Ketika muncul dalam perayaan besar, para ksatria Wirabraja ini tampil dengan musik pengiring 2 2 suling serta 2 tambur. Komplek dimana mereka tinggal dulu sekarang bernama Wirobrajan.
- Prajurit Dhaeng
Nama prajurit ini diambil dari bahasa sebutan gelar bangsawan dari Makassar yang di jamannya memang didatangkan khusus oleh Belanda untuk menambah kekuatan tentara R.M Said (P. Mangkunagara) yang berselisih dengan P. Mangkubumi, padahal sebelumnya mereka berdua kompak dalam melawan penjajah.
Kemudian puncak dari pertikaian tersebut adalah preceraian R.M Said dengan istri yang ternyata putri Hamengku Buwono I. Nah, para ksatria Dhaeng ini lah yang sengaja diutus R.M Said untuk mengawal kepulangan mantan istri ke Kraton karena khawatir kalau Hamengku Buwono I bakal naik pitam.
Namun kekhawatiran tersebut tidak terjadi, sebab kedatangan mereka ke Kraton justru disambut sangat baik malahan para ksatria Dhaeng merasa sangat betah dan enggan kembali lagi ke Surakarta sampai mereka memutuskan untuk setia mengabdi kepada Hamengku Buwono I.
Maka itu oleh sultan HB I, para laskar pemberani tersebut diganti menjadi nama Bregada Dhaeng.
Ketika acara besar Kraton, para pasukan ini akan muncul dengan musik pengiring 2 bende, 1 suling, 1 tambur, ketipung, dodog, dan puipui (alat tradisional dari Makassar). Daerah dimana mereka tinggal sekarang bernama Daengan.
- Prajurit Patang Puluh
Meskipun bernama patang puluh namun tidak ada kaitannya dengan jumlah personil para ksatria ini, sampai sekarang pun belum ada acuan yang memuaskan mengenai penamaan tersebut. Dari segi filosofisnya, bregodo patang puluh memiliki kekuatan sakti mandraguna yang terhadap segala musuh di depan mata dapat mudah ditaklukkan.
Di dalam setiap event perayaan hari besar mereka akan mucul dengan menggunakan musik pengiring 2 suling, 1 terompet dan 2 tambur. Mengenai area kawasan dimana para prajurti patang puluh ini berdiam sekarang dikenal dengan nama Patangpuluhan.
- Prajurit Jogokaryo
Bregada Jogokaryo ini diambil dari bahasa Sanskerta yang bermakna Jogo (menjaga) dan Karyo (tugas), dimana dari segi filosofisnya ksatria Jogokaryo ini memiliki fungsi serta tugas dalam mengamankan serta menjaga terlaksananya sistem pemerintahan di kerajaan.
Ketika perhelatan acara besar yang dilangsungkan Kraton, pasukan ini akan muncul dengan menggunakan musik pengiring 2 tambur, 1 terompet dan 2 suling. Jika anda menemukan area bernama Jogokaryan di kawasan kraton itu adalah komplek dimana bregodo ini tinggal di masanya.
- Prajurit Prawirotomo
Penamaan ksatria Prawirotomo ini diadopsi dari dua bahasa yakni Prawiro (berani, perwira) dari bahasa Kawi sedangkan Tomo (lebih, utama) diambil dari bahasa Sanskerta dan bahasa Kawi bermakna (ahli, pandai).
Itulah mengapa filosofis dari bregodo ini memiliki arti pasukan pandai, pemberani namun selalu bijak dalam setiap tindakannya termasuk ketika suasana perang.
Para pasukan Prawirotomo akan muncul dengan 1 terompet, 2 suling dan 2 tambur ketika acara besar Kraton, dan kawanan tempat mereka tinggal dulu bisa anda temukan di daerah Prawirotaman.
- Prajurit Nyutro
Untuk bregodo Nyutro ini memiliki karakteristik yang istimewa di mata raja, karena selain menjadi prajurit kesayangan raja juga diwajibkan bisa menari di kala itu, sampai ketika Hamngku Buwono IX tidak mewajibkannya.
Tidak heran jika para ksatria Nyutro sangat dekat dengan raja dan dipersenjatai secara lengkap seperti tombak, tameng, towok, panah bahkan senapan).
Nyutro sendiri diambil dari kata dasar sutra yang dalam bahasa Kawi memiliki arti “unggul”, “ketajaman” yang mana dalam bahasa Jawa bermakna “bahan kain halus”. Mengenai awalan N- yang disematkan memiliki makna filosofis sebagai tindakan yang aktif terkair dengan sutra itu sendiri.
Itulah mengapa para bregodo Nyutro adalah ksatria yang halus bak sutra yang selalu mendampingi dan memastikan keamanan sang raja, sekaligus memiliki keunggulan dalam ketrampilan serta ketajaman rasa.
Dalam perayaan acara Kraton pasukan ini akan muncul dengan menggunakan musik pengiring 2 tambur, 2 suling, serta 2 trompet. Komplek kawasan mereka tinggal dulu saat ini dikenal dengan nama Nyutran.
- Prajurit Ketanggung
Penamaan Ketanggung sebenarnya diambil dari kata dasar Tanggung (beban) yang diimbuhi awalan Ke- yang bermakna “sangat”. Sehingga secara tanggungjawab tugas dan tanggungjawab para ksatria Ketanggung sangat berat.
Secara filosofis juga para ksatria ini memiliki makna bregodo yang senantiasa bawa senjata cakra nan ampuh untuk memporakporandakan musuh sampai tercerai berai.
Sekarang daerah dimana mereka tinggal dulu terkenal dengan nama kawasan Ketanggungan dan pasukan ini selalu muncul bersama iringan musik dari 2 tambur, 2 bende, 2 suling, dan 2 terompet.
- Prajurit Mantri Jero
Utuk pasukan ini termasuk sangat spesial, ibaratnya Kopasus jaman dulu, tidak sembarang orang bisa bergabung dalam personil ksatria khusus pengawal raja ini sebab hanya keluarga atau memiliki darah ningrat (sentono) yang bisa masuk ke jajaran bregodo Mantri Jero.
Diambil dari bahasa Sanskerta yang berarti Mantri (menteri, juru bicara) dan Jero (dalam) yang secara filosofisnya sebagai seorang menteri atau juru bicara didalam dengan kewenangan untuk bisa turut andil dalam struktur pemerintahan kerajaan waktu itu.
Anda bisa temukan kawasan Mantrijeron sebagai tempat tinggal mereka dulu dan dalam setiap kesempatan tampil mereka akan muncul dengan musik pengiring 1 terompet, 2 tambur serta 2 suling.
- Prajurit Surokarso
Surokarso, berasal dari dua suku kata yakni Suro (berani) dan Karso (kehendak) keduanya diambil dari makna kata bahasa Sanskerta. Uniknya jaman dulu para ksatria ini bukan bagian dari Kraton melainkan pengawal khusus Putra Mahkota, Pangeran Adipati Anom, yang berdiri terpisah.
Secara filosofis bregodo Surokarso ini memiliki makna pasukan pemberani untuk senantiasa menjaga dan melindungi keselamatan sang putra mahkota. Kemudian sejak Hamengku Buwono IX menjadi raja, pasukan Surokarso resmi digabungkan menjadi bagian kesatuan prajurit Kraton Yogyakarta.
Biasanya pasukan ini akan muncul dengan musik iringan dari 2 suling, 2 tambur, dan ketika upacara Grebeg berlangsung memiliki tugas khusus mengawal gunungan di bagian belakang. Nah, kalau Anda mendapati kawasan bernama Surokarsan itulah tempat mereka tinggal.
- Prajurit Bugis
Nah, khusus untuk bregodo Bugis ini memang pada dasarnya berasal dari Bugis, Sulawesi dengan makna filosofis dari daerah asalnya sebagai pasukan yang kuat dan gagah berani.
Sebelum pemerinthan Sri Sultan Hamengku Buwono IX prajurit bgus memiliki tugas sebagai pengawal Pepatih Dalem di Kepatihan, namun semenjak beliau bertahta dijadikan sebagai salah satu jajaran prajurit terpilih Kraton Jogja.
Dalam setiap acara besar, akan keluar dengan musik pengiring 2 bende, puipui, ketipung, dodog dan 1 tambur. Di upacara Grebeg mereka memperoleh tugas mengawal gunungan dan bagi Anda yang penasaran mereka dulu tinggal dimana, silahkan cari daerah kawasan bernama Bugisan.

Itulah tadi 10 jenis prajurit Kraton Yogyakarta yang pelu diketahui, dan biasanya dalam setiap pasukan terdiri atas 50 orang dengan seragam serta atributnya masing-masing. Jika Anda ingin melihat para ksatria tersebut keluar di depan umum, silahkan datang ketika hari besar seperto Idul Fitri, Idul Adha, maupun ketika hari raya Maulud Nabi Muhammad SAW.